Senin, 05 Juni 2017

Hijrah itu proses, Bukan instansers

Mungkin judulnya agak aneh di dengar, tapi percaya deh disini kita bakal bahas hijrah. Bukan bahas doi yang ga pernah peka *eh. Kembali  ke topik awal. Hijrah adalah proses merubah diri ke arah yang lebih baik, tak instan memang tapi semuanya butuh waktu. Tak jarang memang ketika kita sudah berhijrah selalu saja ada  cobaan, hinaan, dan sebagainya. Semuanya datang silih berganti memaksa kita untuk kembali ke masa jahiliyah dulu. Jangan salahkan mereka apalagi hingga mencela mereka. Doakan yang terbaik untuk mereka, untuk mereka yang belum mengerti arti perkataan Allah yang sesungguhnya tentang hijrah yang sesungguhnya, mereka tak salah justru kitalah yang di tuntut untuk dewasa menghadapinya. Jangan terpengaruh dengan tren keekinian apalagi hingga kau mencobanya, sunnguh itu terlalu buruk jika kau mengetahuinya. Dan untuk kalian para muslimah, tulisan ini bukan saya buat untuk supaya kalian harus hijrah sebaik mungkin, perlahan-lahan pun tak apa. Tak perlu instan, semuanya butuh proses yang panjang. Dan saya yakin kalian semua punya kisah hijrah yang cukup tebal jika di buat buku, jadi jangan sungkan untuk berbagi. Teruslah istiqomah, jangan takut. Kau tak sendirian ada ribuan muslimah diluar sana yang mungkin kisahnya diluar yang kau duga, percayalah Allah sebaik-baik perencana.





Serui, 05/06/17

Kamis, 16 Maret 2017

-Selamat Jalan-

11 Maret 2017 ;(

Aku tak tahu bagaimana cara menuliskannya. Ketika semuanya seakan-akan serasa lamban untuk ku cerna. Aku tak tahu kenapa menangis. Bingung caranya sekedar tertawa. Seakan-akan semua semesta diam tak berbisik. Hujan, membuatku ingin mengeluarkan airmata tapi kenapa? Aku tak tahu. Lupa, mungkinkah itu yang kurasa. Tameng yang seakan dibuat untukku luluh seketika hanya dalam sepersekian detik. Bahkan mungkin sebelum aku mengedipkan mata. Aku selalu menunggu pelangi. Lalu mengapa hari itu aku tak melihatnya? Perlukah aku mencarinya. Tak ada guratan tanda kebahagiaan yang akan menjadi kisah selanjutnya. Ah! Tidak, aku percaya dengan kisah yang telah dituliskan oleh sang penulis handal. Tapi apakah salah? Jika aku melihatnya. Biarkan sajalah sajak yang menuliskan kisahku. Sekian.

(Abi, makasih karena sdh menjadi tameng untuk putrimu, menjadi pendengar setia untuk putrimu😢)